Bagaimana Menilai Kota yang Efisien apa dari harga tanah?

Rajakapling.com – di setiap kita tentu ingin kota yang nyaman dan strategis termasuk pencarian jual tanah kavling juga di tempat strategis namun bagaiman dengan jakarta?

Menurut arsitek sekaligus perencana kota dari Rujak Center for Urban Studies, Marco Kusumawijawa, jangan sampai Jakarta hanya diperuntukan bagi kalangan masyarakat tertentu, misalnya kelas atas.

Sayangnya, pembangunan di Jakarta justru hanya didorong oleh segelintir pihak, terutama pengembang, sehingga tak mengherankan harga lahan cenderung makin tak terjangkau.

Hal inilah yang seringkali menjadi alasan untuk menghindarkan Jakarta bertransformasi menjadi kota yang efisien.

“Seringkali, kondisi (kota efisien) yang tidak tercipta itu adalah karena kondisi cara berpikir yang salah, seperti linier. Kemudian, harga tanah menentukan segalanya,” ujar Marco kepada Kompas.com, Jumat (20/5/2016).

Ia menuturkan, tidak ada alasan untuk menolak mengembangkan Jakarta sebagai kota ekologis.

Dengan menjadi kota ekologis, masyarakat diuntungkan karena tidak ada lagi pemisahan antara si kaya dan si miskin.

Saat ini, Jakarta cenderung hanya bisa dihuni secara nyaman oleh orang-orang dari kalangan menengah ke atas.

Sementara kelompok miskin terpaksa membangun perkampungan kumuh yang pada akhirnya terkena gusur.

Jika pengembang dan pemerintah berpikir harga tanah yang paling menentukan tujuan pembangunan di Jakarta, Marco menilai hal ini salah besar.

Pasalnya, harga tanah sebenarnya tidak ditentukan secara alamiah.

“Harga ditentukan oleh tata ruang. Kalau saya bilang tanah ini 20 tahun lagi jadi kuburan, ya harganya besok turun,” kata Marco.

Begitu pula sebaliknya. Jika dikatakan bahwa satu bidang tanah akan dilintasi oleh jalan besar, maka harganya pasti naik.

Untuk itu, menurut Marco, perencanaan tata ruang sangat berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya harga lahan.

Dengan perencanaan tata ruang, pemerintah dan para stakeholder bisa mengembangkan properti yang mahal dan murah di satu daerah yang sama.

Hal ini, tambah Marco, telah dilakukan di kota-kota negara maju dunia seperti Paris, Perancis. Di kota ini bahkan ada satu bangunan yang ditujukan secara privat dan umum sekaligus.

“Tentu kita (Indonesia) harus belajar, kondisi apa yang menyebabkan di luar negeri bisa di kita tidak. Kondisi itu harus diciptakan di sini. Harus dengan semangat pola pikir¬†bahwa itu sebuah keharusan. Itu yang bikin kota jadi sehat,” tandas Marco.

Post by admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *