Kota-kota Asia Dominasi Pembangunan Pusat Belanja Dunia

Rajakapling.com – mencari jual tanah kapling maupun jual tanah kavling . Dari total 41,9 juta meter persegi luas mal global yang sedang dalam pipa pengembangan di 168 kota, 34,8 juta di antaranya terdapat di Asia. ini adalah Kota-kota di Asia mendominasi pembangunan pusat belanja dunia

Laporan pasar CBRE kuartal I-2016 menyebutkan, China tetap menjadi pasar yang paling aktif dalam memasok ruang-ruang ritel baru, yakni seluas dua pertiga dari konstruksi global.

Chongqing, Shenzhen, Chengdu dan Shanghai membangun lebih dari tiga juta meter persegi ruang ritel dalam pembangunan dengan masing-masing memiliki lebih dari 30 proyek.

Bangkok adalah satu-satunya pasar lain di Asia yang paling aktif dengan 1,7 juta meter persegi ruang dalam pembangunan.

Meski demikian, CBRE menilai penyelesaian pembangunan pusat perbelanjaan global sudah mulai melambat seiring ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Secara global, terdapat 10,6 juta meter persegi pusat belanja yang baru dibuka pda 2015. Angka ini turun dari tahun sebelumnya seluas 12,1 juta meter persegi.

Asia Pasifik tetap yang paling aktif dalam hal penyelesaian dengan 7,8 juta meter persegi, dan China menguasai dengan menyumbang lebih dari enam juta meter persegi.

China Wuhan tercatat menunjukkan volume terbesar penyelesaian global seluas 800.000 meter persegi. Disusul penyelesaian DLF Mall di Noida, New Delhi dengan total luas 183.948 meter persegi.

“Volume besar pasokan baru, dilengkapi dengan pertumbuhan e-commerce, akan menjadi tantangan bagi pemilik lahan, dan gedung untuk mempertahankan kualitas penyewa, terutama di China di mana pasokan baru akan sangat berlimpah,” tutur┬áSenior Director and Head of Retailer Representation, CBRE Asia, Joel Stephen.

Dengan persaingan yang demikian ketat, keahlian operasional pemilik gedung menjadi kunci keberhasilan.

Retailtainment, yang meliputi pengalaman ritel, makanan dan minuman, dan layanan rekreasi, adalah kekuatan pendorong dalam menarik langkah kaki kunjungan ke pusat perbelanjaan dan meningkatkan waktu tinggal pembeli.

Pemilik pusat belanja kemudian disarankan untuk untuk menciptakan ruang yang ideal sebagai tempat mengakomodasi kegiatan rekreasi dan sosial.

“Proses ini, sering disebut ‘placemaking’, akan membutuhkan pemilik mal berinvestasi dalam acara, pemasaran dan kualitas operasional, serta restrukturisasi campuran penyewa mereka, untuk menyelaraskan dengan tren belanja yang sesuai dengan pasar sasaran,” tuntas Stephen.

sumber

Post by Admin RK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *